Emily in Paris

Februari 11, 2022


Serial yang ngehitz di Netflix ini perlu dibahas karena memang fokusnya kota Paris. Terutama untuk menjawab pertanyaan, beneran orang Paris seperti itu? 
Allez-y! πŸ˜€

Sinopsis 

Emily in Paris berkisah tentang seorang Emily Cooper (Lily Collins), 29 tahun, seorang social media strategist dari Amerika. Ia ditugaskan bekerja di anak perusahaan The Gilbert Group, Savoir, Paris untuk sementara waktu.

Reaksi Emily dengan penugasan itu tentu sangat gembira! Tapi dia mengalami culture shock selama berada di Paris. Karakter Emily yang terlalu Amerika, sering menyulitkan dirinya untuk diterima penuh di kalangan rekan kerja lokal Prancis. Ditambah lagi sikap boss Savoir, Sylvie (Philliphine Leroy-Beaulieu), ternyata tidak membuat semuanya jadi lebih mudah. Kendala bahasa juga merupakan salah satu kesulitan untuk blending dengan sekitar (dia sampai di Paris belum belajar bahasa Prancis sekalipun).


Untung, di tengah dinginnya manusia di sekitar, Emily berhasil menemukan persahabatan pada sosok Mindy Chen (Ashley Park), cewek asal Shanghai yang fasih bicara bahasa Inggris dan bekerja sebagai nanny.

Dewa penolong lain juga hadir lewat Gabriel (Lucas Bravo), cowok Prancis asal Normandie, tetangga lantai bawah Emily yang atraktif.


Apakah ada cewek Prancis asli yang kemudian dekat dengan Emily?

Akhirnya ada, yaitu Camille (Camille Razat), cewek Prancis pertama yang ramah pada pandangan pertama kepada Emily. Dia kemudian menjadi sahabat yang siap membantu kala dibutuhkan, bahkan keluarganya menjadi klien di Savoir.


Di kantor, pelan-pelan Emily diterima oleh rekan kerjanya, kecuali Sylvie. Semua berkat kerja keras serta talentanya, yang memang banyak memiliki ide-ide fresh dan out of the box. Emily juga disukai oleh para klien Savoir. Sayang, tantangan terbesar seringkali datang dari bossnya sendiri, yang entah kenapa, suka bersikap...pait.

Dalam hal romans, selama tinggal di Paris, Emily kurang beruntung. Saat awal bekerja di Paris, ia dicampakkan oleh pacar Chicago-nya, yang nggak kuat LDR-an. Emily diam-diam mulai menaruh hati pada Gabriel. Sialnya, dia baru tahu belakangan bahwa Gabriel adalah pacar Camille. Cinta segitiga pun tidak bisa ditolak, terjadi.

Bagaimana kelanjutan petualangan Emily di kota Paris yang romantis?

Review 

Kreator dari seri Emily in Paris, Darren Star, terkenal bertangan dingin dalam melejitkan seri-seri televisi bergenre komedi dan drama. Hasil karyanya sukses memikat audiens wanita. Sebut saja Beverly Hills, Melrose Place, Sex and The City, dsb.

Tema yang paling sering diusung, selain drama percintaan, adalah kehidupan kelas menengah atas, lengkap dengan gaya hidup bebas, dan (seringkali) glamour. Cerita-cerita, yang bahkan orang Amerika sendiri mengatakan, itu jauh dari realitas keseharian warga kota mereka.

Formula "bling-bling" ini diterapkan pada seri Emily in Paris. Jadi jangan heran, bila anda pernah mengikuti serial-serial TV yang saya sebutkan diatas, bisa merasakan banyak kemiripan.


Lepas dari kontroversi dan kritik yang ada, seri Emily in Paris termasuk sukses, sehingga Netflix melanjutkannya hingga dua season. Semua berkat alur cerita yang di ramu ala soap opera berlatar kekinian, berikut akting Lily Collins (sangat sukses menampilkan Emily yang polos, suka bikin drama, tapi PD).

Poin penting lain : visualisasi kota Paris yang indah dan memanjakan mata. Jangan lupakan juga kostum para pemain wanita, semarak, fashionable, dan nggak pernah ada yang sama! Kebayang kalau itu sungguhan mereka punya berapa lemari ya. πŸ˜‚

Saya sendiri kurang menyukai genre model Emily in Paris. Not my kind of movie lah. Lebih banyak fokus menonton cara mereka menggambarkan keseharian di kota Paris. Ya paling saya skip-skip ✂️✂️ adegan-adegan yang "nggak penting".🀣

Bagaimana menurut saya sebagai ehm..eks Parisian tentang seri Emily in Paris?πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š

Seri ini sebetulnya banyak diprotes oleh orang Prancis, karena penggambaran yang terlalu "tipikal".

Eh bien, sebetulnya ada beberapa yang benar, bikin saya de ja vu :

Perilaku warga Paris yang memang cuek sama pendatang. Mungkin karena sudah terbiasa tempat tinggalnya jadi perlintasan jutaan turis dan pendatang. Maklum dengan manusia-manusia yang heboh ambil foto sana sini.

Orang-orang dari luar negeri itu akan datang dan pergi, saat warga Paris tetap menjalani kehidupan yang begitu-begitu saja, menjalani rutinitas seperti layaknya warga kota dunia lainnya. Nggak heran, sering ada jarak antara mereka yang tetap tinggal dan mereka yang cepat atau lambat akan pergi. Saking banyaknya manusia dari berbagai kultur di Paris, tempat kamu berasal akan tetap terlihat... biasa. Tidak ada yang spesial.πŸ˜‘

Dan benar banget, di Paris dengan suasana seindah itu, bila kamu nggak punya kawan, rasanya akan sangat kesepian, karena sulit membangun pertemanan dengan warga kota setempat dalam waktu singkat. Sangat berbeda dengan orang Prancis di kota kecil atau pedesaan tentu saja.

Perilaku di pergaulan sosial sehari-hari hampir mirip-mirip seperti itu. Cuma di tempat kerja Emily itu versi ekstrim. Awalnya memang sulit, tapi bersamaan dengan berjalannya waktu, bisa terjadi pertemanan.

Dan definisi pertemanan disana sangat terkotak-kotak ya. Ada kasta, level atau hierarki.πŸ˜… Sahabat, teman kerja, kenalan, dsb. Nggak bisa kamu tiba-tiba mengaku sebagai teman dekat padahal statusmu "cuma" teman kerja.🀨 Sangat besar perbedaan kedekatannya!

Bagi saya, tokoh yang paling mendekati sosok Parisian adalah Luc (Bruno Gouery), rekan kerja Emily. Saya sampai ngikik sendiri, saat di kafe Luc mulai berfilsafat tentang arti kerja bagi orang Prancis pada Emily. *De ja vu pernah dikuliahin sama teman Prancis soal beginian*😬

Maklum orang Asia tipikal paling gampang disuruh lembur dan overtime karena kerajinan!πŸ˜–



Kuat merokok. Saya tersenyum melihat Emily terkaget-kaget soal hobi ngebulnya orang Paris, baik pria maupun wanita. Mirip ekspresi saya dulu saat pertama kali bergaul. Duh. Mereka itu memang suka kuat banget merokoknya, saya akui. 😀 Bikin orang-orang, yang nggak merokok, jadi terusir seperti kelinci! Paling sering, kawan-kawan saya dulu kalau mau merokok pada ngacir pergi keluar gedung, ngobrol-ngobrol sambil bersandar di sisi luar bangunan dekat pintu masuk. Persis banget seperti yang dilihat Emily di depan sebuah gym kebugaran.

Tahi..tahi..anjing dimana-mana. πŸ’©Saya ngakunya penyayang binatang, tapi perilaku satu ini, jujur ngeselin banget. 😫 Bayangkan, sepatumu sudah disikat bersih, kalau nggak aware, byekkk, 😱 menempel sudah ranjau darat di sepatu kesayangan! Apa nggak kepingin nangis.😭

Anjing adalah peliharaan yang diperlakukan seperti raja di kota Paris. Bebas banget mereka buang hajat! Anjing berfungsi menghilangkan kesepian manusia pada kehidupan perkotaan di Paris. Itu sebab mereka jadi segalanya bagi pemilik. Makanan para anjing ini juga harganya lebih mahal dari menu makan saya dulu! Sakit teriris-iris nggak sih. 😒


Pelanggan tidak selalu jadi raja. Mau coba-coba berlaku seperti majikan seperti di Indonesia saat ke restoran? Di restoran Prancis, terutama Paris, siap-siap anda di jutekin. Mereka itu nggak butuh anda, kok. 😏 Anda pergi, yang mengantri banyak! Kalaupun nggak banyak yang ngantri, kalau anda bertingkah, siap-siap terusir dengan sukses. Mungkin sudah kadung meresapnya prinsip egaliter, jangan coba-coba merendahkan pekerjaan seseorang.

Pelanggan = raja? Lah orang Prancis kan dulu memenggal rajanya sendiri!🀣

Saya sampai berpikir, saking kelihatan nggak butuhnya, jangan-jangan mereka itu buka cafΓ© supaya nggak mager di rumah doank. πŸ˜‚


Pelanggan model Emily yang bilang makanan kurang sempurna...cari masalah sebetulnya.🀭

Kita minta garam untuk dibubuhin sendiri di steak saja, sudah dianggap nggak sopan dan menghina chef-nya banget! 😑

Bagaimana di pasar swalayan atau supermarket? Nyaris nggak ada pegawai yang melayani seperti disini, alias kita harus melayani diri sendiri. Dan kalau dimintai bantuan, kadang ekspresi mereka merengut, seolah berkata "masa begitu aja nggak ngerti". Nggak semua, sih 😁

Orang Prancis, khususnya Paris, karakternya simpel. Nggak suka ya bilang aja nggak suka. Menunjukkan sikap itu pada sesuatu atau orang, sering ditampakkan begitu saja di hadapan mereka.

Ucapan Mindy kepada Emily,

"Jika orang Shanghai jahat di belakangmu, maka orang Prancis jahat di depanmu."

Mungkin terdengar ekstrim. Tapi melihat dari segi karakter, memang ada benarnya.πŸ˜… Makanya berdoa saja supaya disana ketemunya yang baik sekalian, bukan yang jahat. πŸ˜‚

Bagian yang di lebay-kan, sampai mustahil terjadi!

Bekerja dan tinggal di Paris, TAPI NGGAK NGERTI BAHASA PRANCIS SAMA SEKALI. Ini sudah ajaib banget, sih kalau saya bilang. Turis kalau nggak bicara Prancis masih bisa dimaafkan. Tapi mereka yang mau cari duit atau belajar disana, nggak mau belajar bahasa, gelagapan ngomong apa, itu apa namanya..unforgivable banget buat orang Prancis!πŸ’£πŸ’₯



Lebih parah lagi, Emily disana bekerja sebagai social media strategist- marketing. Saya bisa memahami kenapa Sylvie jadi jutek dan sebel banget sama Emily! Saya pun kalau jadi orang Paris, bakal memutar bola mata,

"Ini cewek kepedean sekali datang-datang ke kantor gue, udah ngomong bahasa lokalnya belepotan, ngakunya orang komunikasi media?" πŸ™„

Dan menurut saya, tim Savoir itu sudah baiiik banget karena memaksakan diri berbahasa Inggris, untuk melibatkan Emily dalam pembicaraan mereka. Di dunia nyata? Ke laut saja sana..πŸ‘ŽπŸ‘Ž

Emily sendiri merupakan tipikal orang Amerika sekali. Kawan Prancis saya pernah memberikan pendapat mereka tentang orang Amerika, yang di mata mereka suka terlalu PD dan banyak "bermulut manis".

Tapi jangan coba-coba menyindir balik seperti Emily, kenapa orang Prancis nggak mau bicara bahasa Inggris! πŸ˜–

Prancis sebagai salah satu negara kerajaan terbesar Eropa dahulu, dalam sejarahnya selalu bersaing keras dengan rival mereka, orang Inggris dalam menjadikan diri mereka menjadi nomor satu di dunia. Mulai dari posisi garis bujur 0, budaya, hingga bahasa.

Di masa raja matahari Louis IV, kiblat budaya dan bahasa mengarah ke Prancis. Bahasa Prancis dianggap bagian dari bahasa para raja-raja Eropa. Agak sulit melihat bahwa kini bahasa Inggris-lah yang lebih banyak dipakai, terutama di forum internasional.

Ya, orang Prancis bisa berbahasa Inggris, tapi kalau nggak butuh banget, mereka nggak menggunakannya.πŸ˜„ Apalagi bila tujuannya "cuma" untuk menyenangkan orang yang datang untuk bekerja atau sekolah disana, tapi nggak mau belajar bahasa Prancis sama sekali (ini mustahil juga sebetulnya, karena syarat tinggal disana minimal kita harus lulus ujian DELF)

Makanya di Paris juga menjamur sirkel ekspatriat atau orang senegara. Biasanya terdiri dari orang-orang yang baru belajar bahasa Prancis, hanya bisa berbahasa Inggris, atau bahasa negara mereka sendiri. Bukan tidak mungkin kamu tinggal di Paris, tapi teman-temanmu sedikit sekali yang warga kota Paris asli.

Selama tinggal di Paris, TIDAK PERNAH TERLIHAT MENGGUNAKAN METRO. Bagi Parisian, Metro itu esensial banget, sodara-sodara. Aneh, kalau kamu tinggal disana tapi kemana-mana selalu jalan kaki, naik Taxi atau naik mobil (kecuali memang anak Sultan versi Euro). Poin yang satu ini, saya nggak habis pikir. Kenapa Emily tidak pernah terlihat naik Metro (eh, bus aja nggak pernah, ya)? 🀣


Sampai akhirnya saya ingat, di seri TV Sex and The City, saya juga nggak pernah melihat Carrie naik Subway. Mungkin bagi Darren Star shooting di stasiun bawah tanah itu enggak banget, jauh dari glamour atau merepotkan? I don't know. Cuma gambaran Paris tanpa stasiun Metro-nya yang unik itu kebangetan sebetulnya.πŸ˜‘

Menyanyi mendadak di ruang publik bisa dapat banyak penonton, kembali ke poin pertama tentang kecuekan warga Paris. Hampir nggak mungkin terjadi suasana ala film Disney. Paling melirik lalu kembali berjalan, jarang yang sampai berhenti, apalagi sampai berkerumun.


Gambaran seksualitas perempuan untuk iklan parfum seperti yang digambarkan klien Emily, menurut saya kuno banget, untuk menggambarkan cara berpikir french men, padahal jaman sekarang mereka sudah aware banget sama yang namanya perempuan dijadikan obyek. Saya sendiri dulu lumayan sering membaca-baca berbagai magazine dan mempelajari banyak bentuk iklan disana. Rata-rata punya tema yang mendalam dan jauh dari yang digambarkan di episode tersebut.

Cowok kota Paris banyak yang ganteng, doyan pepet cewek, dan suka selingkuh. Mohon maaf, ya, tapi sepanjang saya berkeliling muter-muter kota dulu, bisa dihitung jari ketemu cowok seperti Gabriel. Sempat berpapasan sekali saja di Metro, dengan-yang astaga ganteng pol ala model iklan fesyen- sudah bersyukur banget.πŸ˜‚


Ini sirkelnya Emily yang memang auto ganteng-ganteng atau sayanya selama ini ngider di tempat yang salah? #nyesel. πŸ™ˆ

Cowok disana bergaul dengan cewek, secantik apapun, ya awalnya standar, ada sopan santun pergaulan. Tidak serta merta main pepet, nepsong, atau langsung pegang pundak. Wadaw, bisa kena pasal. πŸ€ͺ Soal selingkuh? Itu tergantung orangnya, karena orang di Paris sangat beragam.

Cewek Paris marah-marah di belakang atau drama saat ada problem dengan kawannya. Saya nggak akan spoiler apa yang terjadi dengan Camille dan Emily di season dua. Tapi perilaku Camille di season itu, sama sekali nggak menampilkan karakter cewek Prancis yang saya tahu! Apakah terlalu Amerika? Hal yang bagus dari karakter cewek Paris, kalau ada masalah nggak takut untuk berbicara langsung dengan orang yang bersangkutan. Emosi mereka juga lebih terkendali. Bukan ngamuk-ngamuk drama atau perilaku tantrum lain.


Komunitas disana terlihat terlalu seragam, orang Paris beneran mungkin akan bingung melihat hilangnya keragaman manusia di tayangan ini. Cuma ditampilkan beberapa dan nggak mewakili keanekaragamnya Paris sama sekali. Bila kita berjalan-jalan di berbagai arrondisement Paris, suasananya tampak berbeda-beda, sebab kota ini sudah seperti melting pot pertemuan berbagai kultur, dengan perilaku serta kebiasaan khas sendiri-sendiri.


Kesimpulan

Emily in Paris sebenarnya adalah gambaran Paris, lewat kacamata Amerika...tepatnya Hollywood.😎 Jadi nggak bisa ditelan mentah-mentah. Paris lebih banyak terkesan sebagai tempelan saja, dengan beberapa perilaku tipikal warganya, yang dianggap bisa mengundang tawa. Nggak usah tinggal di Paris untuk membuat ramuan cerita seperti itu sebetulnya. πŸ˜…

Seri ini jauh dari menampilkan realita keseharian di sana. Sebab aktivitas warga kota Paris nggak ada bedanya dengan warga kota besar lain. Sibuk bergegas menuju tujuan dan hampir sebagian besar kehidupannya nggak seglamour Emily.

Masalah sehari-hari di sana juga umum banget (cuma Emily saja yang hidupnya rada drama kali ya πŸ˜‚). Dari antri naik metro yang isinya orang segabruk, sampai berusaha menghindari copet. Belum berurusan dengan pemogokan, siap-siap jalan kaki sehat kemana-mana, karena yang pakai mobil pun tidak luput kena imbas macetnya. Yang namanya kendaran di jalan di kota Paris itu, bisa beneran nggak bergerak sama sekali! Masih mending disini, ada majunya sedikit-sedikit. 🀣 *Etapi kayaknya Emily nggak bakalan kena pengaruh, kalau ada pemogokan, kan dia jarang naik kendaraan umum? πŸ˜‚*


Kalau mau tahu realita keseharian orang di Paris, saya lebih menyarankan kalian menonton film "Paris, Je t'aime", kumpulan dari berbagai film pendek, yang salah satunya dibintangi oleh Natalie Portman. Kapan-kapan saya bahas, deh. πŸ˜€

========

Sudah nonton Emily in Paris? Apa kesan yang kamu dapat tentang Paris disana?

Gambar : Emily in Paris (Netflix), Paris, Je t'aime, pixabay.com

You Might Also Like

8 comments

  1. weekend bahas pekerjaan kayaknya haram banget buat org prancis, bener ga? soalnya pas adegan emily ngejar kliennya pas weekend kayaknya bete banget diajak bahas kerjaan:D

    BalasHapus
  2. Yang di party sama Antoine bukan ya? Di pesta perjamuan klien tabu bicarakan bisnis…
    Kalau orang Prancis memang sekalinya libur ya saklek libur, toko kebutuhan pokok pun pada tutup tanpa tawar menawar…

    BalasHapus
  3. lucas bravo ganteng banget ya :') meleleh aku tuh

    BalasHapus
  4. Cowo-cowo nya tv seri Darren Starr rata-rata ganteng kyk gitu...πŸ˜…

    BalasHapus
  5. Belum nonton serial ini mba πŸ˜„. Awalnya aku ga tertarik sebenernya. Mikirnya ya sama aja kayak serial ala Amerika yg lain . Tapi setelah baca review dari mba, yg pernah ngerasain tinggal di negara ini, jadi berubah nih pandangan. Malah kepengin liat serialnya dan nonton sendiri ttg bbrp keanehan yg mba tulis πŸ˜„. Malah itu yg bikin aku tertarik.

    Takjub sih pas tau kalo makan di sana, jgn coba2 minta garam atau bumbu lainnya Krn dianggab menghina chef wkwkwkwkw. Setidaknya ini bisa jadi reminder kalo nanti aku ke Prancis πŸ˜„.

    Berani juga si Emilie bilang kenapa orang Prancis malah ga pengen belajar BHS Inggris Yaa 😁.. tapi akupun beranggapan, kalo memang tujuan kita kerja atau sekolah di suatu negara, ya udah wajar sih kuasain bahasanya. Yakali mau pakai BHS Inggris trus2an..

    BalasHapus
  6. Hahaha selamat menonton mbak..menghibur sih selama kita pinter skip skip yg nggak penting 🀣 Moga-moga saya nggak banyakan spoiler ya πŸ˜‘πŸ˜„

    Nggak cuma di Paris sih soal chef sebel sama yg minta garam...kadang di hotel-hotel internesyenel juga gitu. Dihindari saja mba kecuali memang chefnya ganteng kyk Gabriel πŸ˜‚

    Emily memang ke PD an hahaha

    BalasHapus
  7. akhirnya ada yang sefeeling sama sayaaa , hehe.... dari gaya berpakaian Emily aja udah bukan mencerminkan cewek2 perancis aslinya... , mungkin judulnya cocoknya :" Emily American girl in Paris", πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† fakta nya stylist emily di film ini asli orang amerika yg merupakan penata gaya di film Sex and The City...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang filmnya ingin menunjukkan gini lho kalau cewek Amerika ada di Paris. Hehehe...

      Hapus

Tiada kesan tanpa pesan, mari tinggalkan jejakmu di sini!^^ (komentar akan di moderasi dulu)