Kisah Dua Mahasiswi Asia di Prancis

Februari 15, 2018


Beberapa waktu lampau, saya ingat pernah menerima broadcast message tentang anak TK yang masuk RS Jiwa karena kebanyakan di jejali pelajaran dan les.

Saya juga ingat belum ada sebulan semenjak membaca WA itu ada gadis jenius bahasa yang berprestasi namun wafat usia muda karena stroke. 

Berita-berita itu mengingatkan saya pada kisah serupa dari salah seorang kawan seperantauan di sebuah kota kecil di Eropa Barat.

Kawan saya, sebutlah namanya Yori, mahasiswi S1, dalam kesehariannya adalah mahasiswi asing biasa dari Indonesia. Yori ini termasuk cewek yang cukup taat beribadah. Untuk menghemat biaya apartemen, dia menerima colocataire, atau istilah bahasa Indonesianya teman sekamarlah.

Nah, kebetulan ada seorang mahasiswi Cina yang butuh juga punya tempat tinggal murah. Sebutlah namanya Mu Lan (kayak pahlawan di Disney itu lho), seorang mahasiswi S2 (Master kalau disana).

Setelah berjalan lama, seperti umumnya roommate, wajarlah mulai ada penyesuaian disana sini. Untungnya Yori ini orangnya sabaaar dan ngalahan. Kentara sekali perbedaan budaya dan etos kerja. Kalau kerennya disebut filsafat hidup hehe…

Mu Lan ini terkenal sebagai mahasiswi berprestasi yang tanpa cela. Nilainya A semua, dan dia kerja keras untuk itu. Bekerja part time sampai malam, kemudian setelah itu lanjut mengulang kuliah sampai larut malam. Pokoknya rajin banget. Dan dia sangat takut kalau nilainya jatuh. Beda dengan Mu Lan, Yori mahasiswi Indonesia berusaha keras juga, namun nggak terlalu ngoyo.

Pelan-pelan muncul perbedaan-perbedaan prinsip yang mulai dikeluhkan. Yori kadang mengkhawatirkan cara hidup Mu Lan yang enggak sehat. Terutama ambisinya yang terlalu berlebihan untuk dapat nilai bagus.

Belajar keras hingga larut (gambar : pexels - pixabay)

Walaupun sampai belajar tiap malam, diam-diam Yori melihat Mu Lan bahkan menyiapkan “amunisi cadangan” untuk ujian (tapi nggak tahu, ya dipakai atau enggak πŸ˜‡positif thinking). Yori nggak habis pikir padahal cara belajar teman sekamarnya sudah gila-gilaan begitu. Siang malam menghafal dan hanya menghafal.

Mu Lan pun heran banget pada kebiasaan Yori, yang menurut dia...

“Kamu, kok, kerjanya ibadah melulu, sih?”

Sholat 5 waktu barangkali maksudnya. Mungkin dianya saja yang selalu pulang ke apartemen ketika Yori lagi sholat. Atau kalau lagi tahajud.

Lucu, mungkin dipikirnya, kapan teman sekamar ini belajarnya? Dan bagaimana mungkin sholat bisa membantu teman aku itu lulus dengan nilai cespleng.

Di mata Mu Lan, Yori seperti manusia tersantai yang pernah dia temui mungkin. Hehe…

Sebaliknya Yori sering mengkritik balik,

“Kamu kerjanya belajar melulu! ”

Kadang ada konflik gara-gara beda prinsip, karena pada dasarnya Mu Lan dan Yori berbeda prinsip dan budaya. Jadi yang dianggap tidak boleh, jadi boleh. Yah, pokoknya ribet begitu,deh.

Saya pernah satu dua kali berpapasan dengan Mu Lan. Wajahnya selalu kelihatan serius, tegang dan….kecut banget. Heran juga, bagaimana Yori bisa bertahan.

Ujian akhir yang menjadi momok buat Mu Lan datang. Sepertinya dia begitu stress dengan ujian akhir kali ini sampai akhirnya suatu saat dia ditemukan jatuh pingsan.

Yori panik setengah mati.

Untung boyfriend-nya Mu Lan, yang memang orang asli Eropa, membantu membawa gadis itu ke RS terdekat.

Ilustrasi di Rumah Sakit (gambar : pixabay - Dmitriy Gutarev)

Setelah di MRI ternyata mengalami pendarahan otak, harus di operasi.

Awalnya Mu Lan yang sudah sadar, panik karena dia harus ikut ujian, dia khawatir orang tuanya tahu, dan terutama khawatir biaya operasi yang pasti besar sekali dimana dia sebagai mahasiswi (kere) nggak akan sanggup bayar.

Tapi dokter di negeri sana galak-galak. Mana berani dia ngabur dengan alasan, yang bagi mereka, termasuk cemen seperti....ujian. πŸ‘…Dia pun dirujuk ke RS di kota yang lebih besar dan kabar baiknya, biaya ditanggung asuransi pelajar!

Yori yang awalnya bingung akhirnya menarik nafas lega, karena dia juga sedang menghadapi masa ujian. Serba pusing. Dia minta bantuan saya beres-beres barang Mu Lan. Kami juga menyempatkan untuk menjenguk Mu Lan setelah operasinya selesai.

Ketika kami bertemu Mu Lan, ia masih tampak lemas dan berbaring. Namun wajahnya sudah berbeda. Dia seperti orang yang baru dilahirkan. Lebih rileks lebih santai. Dan sudah bisa bercanda. Tidak bermuka masam lagi.

Hebat juga dokter-dokter sini, entah apa yang mereka lakukan kepada gadis itu sehingga jadi lebih kelihatan seperti manusia kembali.

Mu Lan yang baru ini akhirnya bisa bercerita. Separo curhat. Dia berkisah kalau dia itu lahir dari keluarga yang miskiiin banget, di wilayah Cina yang juga miskin dan gersang. Benar-benar miskin pokoknya. Dan sebagai anak yang akhirnya bisa keluar negeri untuk belajar dalam rangka beasiswa, dia harus berjuang setengah mati agar tidak kembali ke tempat itu lagi, bisa bekerja di negara ini demi memuaskan keluarganya.

Tapi akhirnya dia malah kena stroke. Mu Lan mulai sadar bahwa segala cara yang telah dia lakukan sekarang nggak ada artinya bila dia jatuh sakit...atau mati. Dan dia mulai mempertanyakan arti hidupnya selama ini.

Mu Lan mewanti-wanti kami agar nggak meniru gayanya.

“Kalian harus berusaha santai!” serunya sedikit galak. Seperti kakak seperguruan kung fu yang sedang membaweli junior barunya.

{{Pst, kami mungkin malah terlalu santaaaaaai-red}}

“Saya juga akan mulai belajar santai. Mungkin saya lihat-lihat benar juga caramu.. ”

Dituding-tudingnya Yori, sambil tertawa.

“Saya perlu juga berdoa. Sering-sering ibadah.”

Itu adalah sebuah cerita bertahun-tahun lalu, yang tidak bisa saya lupakan. Kisah dua mahasiswi Asia di negeri barat. Entah bagaimana kabar Mu Lan sekarang, apakah dia masih di sana, aku tidak tahu. Yori juga tidak. Karena tanpa melalui drama menegangkan seperti Mu Lan, Yori telah lulus dari Universitas, pulang, membanggakan kedua orang tuanya, berkeluarga, dan memiliki karir yang cukup baik.

Kembali ke berita di awal cerita. Kasus mereka mirip seperti kisah Mu Lan. Mu Lan lebih beruntung, dia tidak gila dan ada orang-orang waras yang bilang bahwa hidup kamu tidak normal. Dan dia masih bisa belajar dari pengalamannya.

Kadang kita merasa hidup itu perlu diburu-buru. Hingga memaksakan itu pada diri sendiri, keturunan, bahkan sesama. Padahal sesuatu yang diburu-buru bukan pada waktunya hanya menghasilkan buah yang terlalu cepat matang. Dan buah yang cepat matang akan cepat pula busuk. Early ripe, early rot.

Di era digital serba hasil instan ini, entah sudah berapa banyak lahir generasi dengan kecerdasan, namun tanpa memiliki waktu cukup untuk merenung atau kontemplasi. Guna memahami pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan yang paling mendasar.

Bila mujur mereka akan disadarkan seperti Mu Lan.

Jika tidak, mungkin butuh lebih dari satu generasi untuk memutus rantai kesalahan itu. Saat kita semua mulai perlu merasa terheran-heran dulu, sampai bertanya-tanya, kala menyaksikan sebuah peristiwa sederhana yang mengistirahatkan otak, serta menghentikan segala buru-buru. Membuat segala waktu di dunia ini menjadi bukan milik kita lagi.

“Kamu, kok, kerjanya ibadah melulu, sih?”

 

----

Gambar fitur :  Nikolay Georgiev dari Pixabay.com

 

You Might Also Like

4 comments

  1. Seru banget kisahmu mbak. Semoga Wu Lan sehat dan cita-citanya tercapai ya. Ngeri juga sangkin optimisnya kena pendarahan otak ya. Untung bisa selamat. Dulu kuliah dimana mbak?

    BalasHapus
  2. Sometimes slowing down can also lead us to the future. Slower, yes but it's okay....

    BalasHapus
  3. waah serem sekali sampai pendarahan otak, mungkin wu lan perlu dikenalkan dengan motto wolles kelees hi hi hi ... sukses ya untuk kedepannya :)

    BalasHapus
  4. Ah aku jadi pengen kuliah di luar negeri jugaaa

    BalasHapus

Tiada kesan tanpa pesan, mari tinggalkan jejakmu di sini!^^ (komentar akan di moderasi dulu)